H. Shole dalam pandanganya mengenai, Hari Raya Idul Adha 1431 Hijriah harus menjadi momentum intropeksi bagi kita, Ribuan warga yang berebut jatah daging kurban menjadi potret ketimpangan. Mengingat di satu sisi lainnya, sekelompok warga dengan bangga memamerkan harta meski diperolehnya melalui korupsi.Fenomena tersebut menandai merosotnya moral bangsa ini. Bahkan gambaran kondisi yang ada saat ini tidaklah jauh berbeda dengan zaman jahiliyah. Sehingga jangan heran jika bencanapun seakan tiada henti menghampiri negeri ini.“Bantuan untuk korban bencana pun sekarang dikorupsi. Ini perbuatan yang amat jahat. Kok, tega-teganya rakyat yang sudah menderita haknya masih dikorupsi oknum yang tidak bertanggung jawab , katanya ketika berbincang bincang dengan lsm citra di kantor sekolah yang di pimpinnya Dalam kesempatan ini, beliau berharap kiranya melalui Idul Adha kali ini mereka yang berbuat jahat merenung dan bertobat. “Di sejumlah rentetan bencana yang menerpa kita harus instrospeksi dan membangun kebersamaan meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah.”Sorotan terhadap maraknya praktik korupsi juga tengah maraknya di soroti masyarakat termasuk pejabat tinggi dari berbagai angkatan dan Polri, menyatakan maraknya korupsi yang terjadi saat ini menandakan makin merosotnya moral bangsa. “Korupsi dilakukan akibatnya rendahnya keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT,” katanya .Oleh karenanya beliau berharap adanya solusi jitu dan kemauan bersama pemimpin baik pemerintah maupun elit politik untuk membenahinya. “Hikmah terpenting Idul Adha ialah mengajarkan kita untuk lebih bertaqwa dan semakin peduli dalam membantu sesama yang membutuhkan pertolongan,” begitu ucapan H.Shole.
Sabtu, 18 Desember 2010
Pendidikan Memihak Siapa?
PENDIDIKAN setiap bangsa mesti memiliki ideologi, yaitu keyakinan, nilai, cita-cita, visi, dan metode untuk meraihnya yang setia memajukan bangsa dan negaranya.Dengan demikian, sebuah proses pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan dan mendorong siswa agar membuat persiapan untuk menjawab pertanyaan ketika musim ulangan dan ujian tiba. Ada empat domain pokok yang mesti dipahami dan menjadi acuan dalam setiap proses pendidikan di Indonesia, yaitu agar setiap siswa mengenal dan memahami potensi dirinya sehingga merasa mantap nantinya ketika memilih satu jurusan yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Kedua, mengenal karakter dan potensi daerahnya yang potensial untuk dipelihara dan dikembangkan.Ketiga, memahami sejarah dan jati diri bangsanya untuk dijaga kehormatannya dan dimakmurkan rakyatnya. Keempat, guru dan siswa juga perlu memiliki wawasan regional-global meskipun sekilas mengenai apa yang tengah dan akan terjadi pada tingkat internasional. Keempat domain itu sangat penting dimiliki oleh setiap siswa karena nantinya mereka akan menerima estafet kepemimpinan dan kepemilikan bangsa ini. Tapi disayangkan, suasana batin pendidikan sekarang ini lebih banyak diributkan oleh hal-hal administratif dan heboh ujian nasional yang materinya sangat kognitif. Menarik diteliti, seberapa dalam dan kuat pemahaman serta kecintaan remaja kita terhadap sejarah dan jati diri bangsanya dengan materi dan kultur pendidikan yang berlangsung selama ini.Saya agak pesimistis lantaran kurikulum dan kultur pendidikan yang ada sekarang kurang menanamkan nilai-nilai patriotisme karena pelajaran sejarah dan ketatanegaraan agak terpinggirkan. Sekolah lebih fokus pada persiapan untuk menghadapi ujian nasional. Sejarah, semangat, dan nilai-nilai yang menjiwai kelahiran republik ini tidak cukup dipahami para siswa. Rasa pemihakan serta kecintaan kepada rakyat kecil dan Tanah Air kurang tertanam di hati para siswa dan hal ini bisa jadi terbawa sampai besar. Pernah dilakukan survei bahwa para sarjana ketika mencari kerja yang paling diminati adalah bergabung ke kantor penjual jasa dengan gaji besar, kurang mempertimbangkan apakah perusahaan itu prorakyat Indonesia ataukah tidak.Siapakah pemilik perusahaan dan seberapa besar pemihakannya pada kepentingan Indonesia kurang menjadi pertimbangan. Dengan kata lain, siapa yang mau membayar lebih tinggi akan menjadi pilihan pertama dan utama. Jika sikap pragmatisme seperti itu dominan pada pikiran para siswa dan sarjana kita, logis bila banyak modal asing seenaknya beroperasi di Indonesia dan menggeser usaha-usaha nasional-pribumi. Tanpa adanya pemihakan ideologis terhadap kepentingan dan harga diri bangsa sendiri yang ditanamkan sejak sekolah dan berlanjut pada jenjang perguruan tinggi serta kultur perusahaan, daya tahan ekonomi dan budaya Indonesia semakin rapuh.Rumor yang beredar, suap itu tidak saja berlangsung di lingkungan aktor politik, birokrat, dan pengusaha Indonesia, tetapi tak kalah menggiurkan adalah kekuatan luar yang sengaja ingin mendominasi dan menjerat politik ekonomi bangsa ini. Potensi kekayaan alam yang semasa Bung Karno masih diproteksi, sekarang diobral murah pada modal asing dengan pembagian untung yang sangat tidak sepadan. Orang terjebak berpikir pendek untuk memenuhi kepentingan sesaat dan kelompok kecilnya saja dengan mengorbankan aset dan harga diri bangsa dan rakyatnya. Para calon bupati, wali kota, dan gubernur degan tega dan tidak tahu malu meracuni rakyat dengan membagi uang agar dirinya dipilih.Tindakan ini telah mencederai harga dirinya, rakyatnya, proses demokrasi, dan pada urutannya menyebarkan virus pembusukan ke dalam kultur politik kita. Yang tidak terpantau oleh rakyat adalah transaksi tingkat tinggi yang berlangsung lintas negara. Lagi-lagi, pertanyaan yang mesti kita renungkan adalah seberapa besar pemihakan kita baik dalam dunia pendidikan, ekonomi maupun politik terhadap martabat dan jati diri bangsa sendiri? Bagaimana kita menyikapi pemberitaan tenaga kerja wanita (TKW) yang telantar dan tersiksa di Timur Tengah? Belum lagi nasib petani dan perajin yang terdesak oleh produk impor.Saud pakpahan ingin mengajak pembaca untuk melihat kembali, sudah tepatkah strategi pendidikan kita untuk menanamkan nilai-nilai cinta Tanah Air Indonesia, kekayaan budaya sendiri, dan pemihakan kepada rakyat serta martabat bangsanya? Saya tetap pada prinsip, setiap proses pendidikan mesti ada evaluasi semacam ujian. Hanya saja perlu diingat, ujian adalah bagian dari proses pendidikan dan pembentukan karakter, bukan tujuan akhir dari proses pembelajaran siswa sehingga seluruh perhatian guru dan murid diarahkan ke ujian nasional.(CITRA)
PAK, NARTO – PEDULI PENDIDIKAN
Pak Narto adalah orang yang sederhana dan jujur, Pendeta gembala sidang dari gereja pantekosta kel.duri kosambi kec.Cengkareng.namun fisi dan misinya sangat luar biasa selain menigkat kan kerohanian,agar umatnya semakin mengenal kebenaran, beliau juga sangat peduli terhadap pendidikan teristimewa pendidikan anak sebagai generasi penerus bangsa, terbukti selama Pak Narto menjadi gembala di gereja yang dia pimpinya,sudah banyak dari anak dari keluarga Prasejahtera yang berhasil dia bina ada yang jadi polisi,bahkan sampai ada yang sudah menyandang predikat sarjana semua itu berkat bimbingan keuletan dan pengorbanan Pendeta, Pak Narto. beliau orang yang sangat sederhana dan jujur dalam kepribadian.tanpa pamrih,sekarang beliau dipercayakan memimpin PPA.muridnya adalah anak dari keluarga Pra sejahtera namun Pak Narto membimbing dengan kasih yang tulus dan pengorbanan dengan perbuatan nyata agar anak dari keluarga yang tak mampu tadi bisa mengecap pendidikan, dengan baik dan menjadi anak yang berguna bagi keluarganya dan bangsa Indonesia ini . tanggapan orang tua murid yang ada di P.P.A. Sangat positip dan bersyukur karena masih ada yang peduli terhadap pendidikan anak mereka.rata rata orang tua murid adalah keluarga pra sejahtera,yang tak mampu menyekolahkan anaknya .semoga Pak Narto menjadi teladan bagi gembala gembala yang lain untuk memikirkan juga kemajuan anak generasi penerus teristimewa anak –anak dari keluarga yang tidak mampu. Buka mata buka hati adakah kasih sesama manusia ciptaan tuhan? Jesus per pesan kepada simon petrus ,yohanes.21:15, Simon anak yohanes apakah engkau mengasihi aku lebih dari pada mereka ini? Jawab Petrus kepada-Nya Benar Tuhan Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau Kata Yesus kepadanya gembalakanlah domba domba-Ku. Itulah soko guru yang harus di contoh setiap pengikut kristus, Yesus memperingatkan simon petrus sampai tiga kali. Demi membebaskan umat manusia dari jeratan dan belenggu iblis untuk membebaskan dari kemiskinan kebodohan keterbelakangan untuk di persembahkan pada kedatangan Kristus kedua kali. Dan untuk keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia .(citra)
Kamis, 09 Desember 2010
Sekolah dasar
Sekolah dasar (disingkat SD) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Lulusan sekolah dasar dapat melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (atau sederajat).Pelajar sekolah dasar umumnya berusia 7-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.Sekolah dasar diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan sekolah dasar negeri (SDN) di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Sedangkan Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, sekolah dasar negeri merupakan unit pelaksana teknis dinas pendidikan kabupaten/kota.Sekolah dasar negeri di Indonesia umumnya menggunakan seragam putih merah untuk hari hari biasa, seragam coklat untuk pramuka/ hari tertentu, dan pada sekolah-sekolah tertentu menggunakan seragam putih-putih untuk upacara bendera.Upacara bendera dilaksanakan setiap hari Senin pagi sebelum dimulai pelajaran.Sekolah menengah pertama (disingkat SMP;Inggris:junior high school) adalah jenjang pendidikan dasar pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus sekolah dasar (atau sederajat). Sekolah menengah pertama ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 7 sampai kelas 9. Pada tahun ajaran 1994/1995 hingga 2003/2004, sekolah ini pernah disebut sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP).Murid kelas 9 diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas) yang mempengaruhi kelulusan siswa. Lulusan sekolah menengah pertama dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas atau sekolah menengah kejuruan (atau sederajat).Pelajar sekolah menengah pertama umumnya berusia 13-15 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.Sekolah menengah pertama diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan sekolah menengah pertama negeri di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah kabupaten/kota. Sedangkan Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, sekolah menengah pertama negeri merupakan unit pelaksana teknis dinas pendidikan kabupaten/kota.Di beberapa negara, SMP berlaku sebagai jembatan antara sekolah dasar dengan sekolah menengah atas. Namun istilah tersebut dapat dipergunakan secara berbeda di beberapa negara, kadang-kadang saling berbanding terbalik. Untuk negara-negara yang mempergunakan bahasa Cina, khususnya di Cina, Taiwan dan Hong Kong, juga di Italia (= scuola media), SMP berkonotasi yang sama dengan secondary school.Oleh karenanya di beberapa istilah di pemerintahan dan institusi pendidikan, SMP adalah nama lain dari "junior high school", yang pada dasarnya suatu sekolah setelah sekolah dasar. Penamaan sebagai junior high mulai muncul sekitar tahun 1909 pada waktu pendirian sekolah Indianola Junior High School di Columbus, Ohio.[1] Sedangan konsep penamaan sebagai middle school mulai diperkenalkan pada tahun 1950 dari Bay City, Michigan.[1]SEJARAH,Pada masa penjajahan Belanda, sekolah menengah tingkat atas disebut sebagai meer uitgebreid lager onderwijs (MULO). Setelah Indonesia merdeka, MULO berubah menjadi sekolah menengah pertama (SMP) pada tanggal 13 Maret 1946.Pada tahun ajaran 1994/1995 hingga 2003/2004, sebutan SMP berubah menjadi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)Setelah tahun ajaran 2003/2004, SLTP berubah lagi menjadi SMP.BUDAYA,Sekolah menengah pertama negeri di Indonesia umumnya menggunakan seragam putih biru untuk hari hari biasa, seragam coklat untuk pramuka/hari tertentu, dan pada sekolah-sekolah tertentu menggunakan seragam putih-putih untuk upacara bendera.,Upacara bendera dilaksanakan setiap hari Senin pagi sebelum dimulai pelajaran.
Mendiknas Pun Merogoh Kocek Rp 2 Juta
JAKARTA (CITRA) - Sebuah karya ukir siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Jepara, Jawa Tengah, membuat Menteri Pendidikan Nasional merogoh kocek Rp 2 juta. Karya ukir itu adalah sebuah relief bertekstur tanaman ,Tak hanya Mendiknas yang merogoh kantong. Sejumlah pejabat eselon di Kemendiknas juga memborong hasil karya siswa-siswa SMKN2 Jepara. Aksi belanja ini terjadi dalam pameran usaha kecil dan menengah (UKM) yang digelar Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) 2010 di Gedung SMESCO, Jakarta, Minggu (5/12/2010).Gerai barang kerajinan karya SMKN 2 Jepara merupakan salah satu gerai dari sejumlah gerai kerajinan yang mengikuti pameran tersebut. Di gerai tersebut, sejumlah siswa tampak tekun memahat kayu untuk menciptakan sebuah tekstur relief. Bentuk ukiran ukiran itu terlihat begitu rumit dengan sejumlah detai Namun, para siswa sekolah kejuruan itu tampak santai. Mereka sesekali bercanda tanpa mengernyitkan kening ketika tangan mereka dengan terampil mematukkan palu pada kepala pahat."Biasanya sebulan kalau ngerjain ini. Ini buat tugas pribadi aja kok, Mbak," ucap salah seorang siswa SMKN 2 Jepara jurusan Kriya Kayu yang mengaku tengah membuat tugas relief relung untuk pajangan dinding tersebut.Ukiran Jepara memang terkenal seantero nusantara karena kualitas dan keindahannya. Tak pelak, gerai ini pun banyak dikunjungi pembeli dari Jakarta. Sudah ada 10 unit yang terjual selama dua hari para siswa SMKN 2 Jepara turut serta dalam pameran ini. Ramai, Mbak, ini kami baru ikutan pertama kali sudah banyak yang tanya dan beli. Mereka beli karena kami jual murah, selain produksi sendiri kami juga tidak kenakan biaya pengiriman," ucap Suyoto, seorang guru praktek yang turut mendampingi siswa-siswanya melakukan pameran.Perabotan ukir hingga pajangan ukir dijual dari harga Rp 300 ribu - Rp 2 juta. Untuk pameran ini, Suyoto mengaku pihaknya khusus mempersiapkan karya dari Jepara. Ukiran-ukiran yang dijual di gerainya kebanyakan merupakan perabotan rumah seperti lemari, ataupun krapyak kaca, hingga pajangan dinding. "Semuanya karya siswa dan alumni kami. Seluruh hasil penjualan ini akan kami gunakan lagi untuk biaya produksi di sekolah," ucap Suyoto.(citra)
Minggu, 05 Desember 2010
Rabu, 01 Desember 2010
Masyarakat Indonesia Mayoritas Berpendidikan Rendah
JAKARTA -CITRA Pemerintah mengklaim, persentase jumlah penduduk miskin di Indonesia terus menurun drastis. Bukan hanya itu, jumlah pengangguran di tanah air juga disebutkan terus turun setiap tahun. Namun demikian, bila melihat dari jumlah per orangnya, angka pengangguran dan angka kemiskinan di tanah air diakui masih tergolong cukup besar."Kita mengakui itu, meski angka pengangguran dan kemiskinan terus menurun drastis sejak 2006, namun perbandingannya adalah dari 237 juta penduduk. Jadi, jumlahnya memang masih besar," ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat menghadiri pembukaan Konferensi Pemberantasan Korupsi, di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (1/12).Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), per Agustus 2010, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia masih sebesar 7,14 persen. Ini memang mengalami penurunan dibanding TPT Februari 2010 yang sebesar 7,41 persen, atau TPT Agustus 2009 sebesar 7,89 persen. Namun demikian, bila melihat dari jumlah angkatan kerja yang tidak bekerja, maka angkanya mencapai 8,3 juta orang. Sementara, jumlah angkatan kerja pada Agustus 2010 mencapai 116,5 juta orang, sedangkan jumlah penduduk yang bekerja hanya mencapai 108,2 juta orang.Meski hampir seluruh sektor mengalami kenaikan jumlah pekerja, namun jumlah pekerja sebagai buruh tercatat masih mendominasi. Yakni sebesar 32,5 juta orang, atau 30,05 persen. Sementara berdasarkan jumlah jam kerja pada Agustus 2010, sebesar 74,9 juta orang bekerja di atas 35 jam per minggu. Sedangkan pekerja dengan jumlah jam kerja kurang dari 8 jam, hanya sekitar 1,2 juta orang atau 1,11 persen.Pekerja terbesar tercatat masih dari jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), yakni sebesar 54,5 juta orang atau 50,38 persen. Sedangkan pekerja dengan pendidikan diploma ada sekitar 3 juta orang, dan pekerja dengan pendidikan sarjana hanya sebesar 5,2 juta orang. "Penyerapan tenaga kerja periode Februari-Agustus 2010, memang masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan rendah," ungkap Kepala BPS, Rusman Heriawan pula ,Menanggapi masalah tenaga kerja yang rendah pendidikan tersebut saud pakpahan mengatakan pemerintah dalam hal ini harus lebih meningkatkan sumber daya manusia(SDM) ,itu sangat diperlukan karena pendidikan itu secara otomatis mengubah standar kehidupan manusia.setiap pribadi untuk kesejahteraan dirinya, keluarga, desanya, dan negaranya, bekal berpendidikan yang cukup itu modal utama , lebih bagus secepatnya pemerintah memastikan kebijakan mendidik warga Negara Indonesia ,secara menyeluruh merata pastikan semua warga Indonesia mendapat pendidikan yang maxsimal .dari pada kebijakan memberi subsidi subsidi atau bantuan ,dengan materi atau sembako ini pembodohan ,contoh raskin yang menikmati ini lebih banyak orang orang pintar yang tak bermoral ,contoh di ibukota kalau mau jujur ,pemegang gakin ,mobilnya sudah ada masih memiliki gakin mau gratis berobat sementara orang yang benar benar miskin hanya bis a meringis kesakitan menahan penderitaanya ,beras raskin yang menerima bukan orang miskin ,coba di cek jangan ada dusta di antara kita,kebanyakan yang menerima orang orang yang punya ruma bahkan mengontrakkan rumah lagi ,sementara yang miskin sudah ngontrak rumah tinggal kerja pun sembaraut alias kuli ini nga dapat .apa apa kalah bersaing ,seperti politikus berebut makanan atau kue di got .kelurahan sebagai ujung tombak harus mengetahui kebenaran jangan hanya mengerti dusta alias laporan babe senang ,seharus nya gubernur harus menempatkan,orang orang yang propesional di kelurahan teristimewa di kelurahan kumuh,kembali tentang pendidikan tadi, kalau ilmu pendidikan di tingkat kan di negeri ini saya yakin sepuluh tahun kedepan Indonesia pasti maju sejajar bahkan lebih handal dari bangsa bangsa di dunia ,bukan terkenal karena mengexkpor pembantu tki,tkw . ke arab .ini bukan sekedar mimpi karena potensi bangsa ini saangat mengyakinkan dan sumber daya alam (SDA) yang kaya raya .pemimpin bangsa harus lebih bijak melepaskan bangsa ini atau mengeluarkan nya dari belenggu kemiskinan, keterbelakangan ,kebodohan pemimpin harus berbicara jujur agar hikmat dan marifat dari Tuhan menyertaimu.merdeka!
Langganan:
Postingan (Atom)




